Friday, 20 May 2016

BUDIDAYA TANAMAN JAHE DALAM POLYBAG



Memilih tanaman budi- daya yang tepat memang sangat berpeng- aruh pada hasil dan keuntungan yang akan didapat, namun jika terlalu larut dalam memilih komoditi/tanaman yang te- pat, bisa jadi keuntungan yang diharapkan akan terlewati karena musim. Hal ini terjadi akibat harga berkaitan dengan musim panen, dimana musim yang kurang mendukung menyebabkan harga komoditi tertentu mencapai harga tinggi, dan sebaliknya saat musim baik dan banyak orang berbudidaya biasanya hargapun juga turun hal ini sesuai dengan hukum ekonomi. Untuk mencegah hal itu terjadi, maka kita tak perlu menunggu musim atau rame- rame menanam sebagaimana sifat latah sebagian besar petani kita, sehingga tidak lagi terjadi
“panen massal/over produksi”. Dengan demikian tak perlu terjadi fluktuasi harga yang berarti dikarenakan terlalu banyak stok dan menurunnya jumlah permintaan.
Jahe Merah, tanaman ini tak terlalu sulit dalam berbudidayanya. Cukup di sela-sela tanaman pokok (sengon, kopi, atau tanaman buah- buahan), ataupun lahan kosong di sekeliling rumah.
Sebelum memulai untuk menanam Jahe sebaiknya kalkulasi secara matang seberapa besar investasi yang di tanam untuk budidaya jahe agar dapat mengetahui laba rugi setalah masa panen. Berikut adalah langkah-langkah praktis dalam membudidayakan Jahe Merah dalam karung atau polybag
1. Menyiapkan media tanam
Media tanam yang dipakai adalah karung bekas atau polybag. Jika menggunakan karung, bisa menggunakan karung bekas beras atau pakan ternak. Semakin besar ukuran karung, media pengisi juga semakin banyak, namun produktivitas Jahe Merah juga
akan semakin tinggi. Jika menggunakan polybag, gunakan polybag dengan ukuran minimal 40 x 50 cm. Media pengisi karung atau polybag adalah tanah, pasir rambon dan pupuk organik dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2 Tanah
Tanah yang baik adalah tanah yang gembur dan subur. Gembur artinya remah dan komposisi
liat, pasir, dan debunya seimbang. Subur berarti banyak kandungan unsur haranya. Jika tanah yang digunakan sudah subur dan gembur, sebenarnya tidak diperlukan penambahan bahan lain. Namun karena jarang didapatkan tanah yang subur dan gembur, maka diperlukan penambahan bahan lain seperti pasir dan pupuk.

Pasir


Pasir diperlukan jika tanah yang digunakan mengandung fraksi liat yang cukup tinggi. Pasir
yang digunakan adalah pasir ladu atau pasir yang bercampur dengan lumpur. Selain murah, pasir ini juga masih mengandung bahan-bahan mineral endapan.

 
Pupuk Organik


Pupuk organik bisa menggunakan pupuk kandang, pupuk kompos atau bokashi (hasil fermentasi mikroorganisme). Meskipun menggunakan pupuk kandang, akan lebih bagus jika pupuk kandang yang telah dihancurkan dan difermentasi sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman. Seluruh media tersebut dicampur merata sambil dibersihkan dari benda-benda yang mengganggu, misalnya plastik, batu atau benda lainnya.
Kemudian media pengisi dimasukkan ke dalam karung atau polybag yang telah disiapkan. Pengisian karung atau polybag cukup ¼ bagian saja,
karena selama pertumbuhan tanaman nanti, akan dilakukan penambahan pupuk organik.
2. Membibitkan Jahe
Persiapan bibitan Jahe
Syarat memilih bibit jahe yang baik untuk di tanam :
1. Berasal dari tanaman jahe yang sudah tua yang di tandai tajuk kering sekitar ber umur 9 sampai dengan 10 bulan.
2. Rimpang Jahe sudah melewati masa dormansi (1 -1,5 bulan) masih ssegar, tidak ada tanda bibit penyakit atau pembusukan.
3. Kulit rimpang tidak lecet atau memar akibat galian.
4. Pilih Rimpang yang besar dan subur.
5. Bibit berkualitas adalah bibit yang baik (tidak disimpan terlalu lama),
6. Memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh tinggi), dan mutu fisik. Mutu fisik adalah bibit bebas hama dan penyakit.
7. Rimpang untuk dijadikan benih, sebaiknya dipotong-potong dengan cuter steril atau di potes langsung, dengan menyisakan 2 - 3 bakal mata
tunas dengan bobot sekitar 25 - 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah.
8. Kebutuhan benih per ha untuk jahe putih besar (panen tua) membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar panen muda. Sedangkan jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton.


Pengecambahan


Jika dikhawatirkan adanya serangan jamur, benih bisa direndam terlebih dahulu pada larutan fungisida (misalnya Dithane M-45) selama 15 menit (untuk budidaya secara konvensional). Jika tidak, benih cukup direndam atau dibasahi dengan air, kemudian diletakkan pada tampah atau nyiru, dan ditempatkan pada tempat yang lembab agar berkecambah. Agar kelembaban terjaga, setiap hari benih harus dikontrol dan dibasahi air jika terlalu kering. Benih akan mulai berkecambah setelah kira-kira 2 minggu.

Penyemaian


Salah satu cara penyemaian adalah menggunakan peti kayu dengan urutan kerja sebagai
berikut:
a. Pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis,
b. Beri abu gosok atau sekam padi, selanjutnya bakal bibit lagi beri abu gosok atau
sekam padi lagi seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam
padi.
c. Benih tersebut akan mulai tumbuh menjadi tanaman muda dalam waktu sekitar 2-4
minggu. Setelah tumbuh dengan ketinggian sekitar 10 cm (tumbuh 4 – 5 daun), bibit
dapat diambil/dipotong dari rimpangnya dan ditanam pada media polybag yang telah
disiapkan, Ukuran polybag untuk bibit adalah diameter 7 – 10 cm .
d. Rimpang yang tersisa bisa ditanam kembali pada pesemaian agar tumbuh bibit yang
lain. Satu buah rimpang bisa menumbuhkan sekitar 2-4 bibit.
e. Setelah ditanam, tanaman Jahe tersebut jangan langsung ditempatkan pada ruang yang terbuka
dengan sinar matahari langsung, melainkan harus diadaptasikan pada tempat yang memiliki
naungan terlebih dahulu hingga umur 1,5 - 2 bulan.
3. Menanam
Penanaman bibit Jahe pada karung atau polybag harus hati-hati. Buatlah lubang sebesar ukuran
polybag bibit, masukkan bibit Jahe bersama medianya ke dalam lubang tanam, kemudian tutup dengan
media disekitarnya dan padatkan sekedarnya saja. Setelah penanaman, media dan bibit harus disiram
dengan air bersih agar tanaman mendapatkan cukup air dan kontak dengan media.
4. Memelihara
Pemeliharaan tanaman Jahe dalam karung atau polybag cukup mudah. Pemeliharaan meliputi:
penyiraman, penyiangan dan penggemburan media, pemupukan, serta pengendalian hama dan
penyakit.
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari, sebaiknya pada sore hari, terutama saat tidak ada
hujan. Beberapa petani menggabungkan budidaya Jahe Merah dengan budidaya ikan dalam
kolam, untuk memudahkan penyiraman dan mengantisipasi kebutuhan air saat musim kemarau.
Selain itu, air kolam diharapkan memberi unsur hara tambahan bagi tanaman. Penyiraman bisa
dihentikan saat tanaman Jahe mulai memasuki fase senecense (mengering) saat tua dan
mendekati panen.
b. Pemangkasan
Perlakuan Pemotongan batang jahe ketika umur 2 bulan, dilakukan untuk memacu pertumbuhan calon
tunas baru serta memperbanyak jumlah batang yang tumbuh seragam dalam 1 pot/polybag.
c. Penyiangan dan penggemburan
Rumput yang tumbuh pada media tanam perlu disiang agar tidak mengganggu pertumbuhan
tanaman, terutama pada sekitar 4 bulan pertama, di mana tanaman Jahe belum begitu rimbun. Beberapa
petani menambahkan mulsa jerami pada media tanam untuk menekan pertumbuhan gulma. Selain
penyiangan, media tanam juga perlu digemburkan dengan menggunakan cetok. Penggemburan
dimaksudkan untuk menyediakan media tumbuh yang baik bagi akar tanaman dan memperbaiki sirkulasi
udara dalam media.
d. Pemupukan dan Pembumbunan
Pemupukan dan pembumbunan dilakukan 2 bulan sekali seiring pertumbuhan tanaman, dengan menambahkan pupuk organik pada media
tanam. Jumlah pupuk yang diberikan tergantung dari besarnya media yang digunakan, kira-kira 1/5 ukuran karung atau polybag yang digunakan.
Pemupukan bisa diberikan 3 kali selama umur tanaman.
Pembumbunan lebih baik bila dilakukan secara berkala yaitu di saat ada pertumbuhan rimpang jahe baru yang muncul di dekat permukaan
tanah. Timbun rimpang yang muncul ke permukaan menggunakan media yang telah disiapkan dengan ketebalan sekitar 5 cm.
e. Pengendalian Hama dan Penyakit
Sebenarnya kasus serangan hama dan penyakit yang serius pada tanaman Jahe jarang terdengar. Namun akan lebih baik jika kita mengetahui
dan mengantisipasi hal tersebut.
Hama yang sering menyerang tanaman Jahe adalah belalang dan ulat yang memakan daun terutama daun muda. Untuk pengendaliannya, kita
bisa menggunakan beberapa cara yaitu:
1. Cara mekanis, dengan memeriksa tanaman dan membunuh hama terutama ulat yang sering memakan daun, atau dengan menggunakan
perangkap serangga berupa plastik berwarna cerah (kuning atau merah) yang dipasang dengan bambu dan diolesi lem.
2. Cara kimiawi, dengan menyemprotkan insektisida yang tepat untuk mengendalikan belalang dan ulat. Insektisida yang dianjurkan adalah
insektisida organik berbahan aktif tembakau atau yang lainnya.
3. Sedangkan penyakit yang mungkin bisa menyerang tanaman Jahe adalah penyakit Layu Bakteri dan Busuk Rimpang yang disebabkan oleh jamur.
Untuk mencegah penyakit tersebut, kesehatan benih dan sanitasi lingkungan pertanamanperlu diperhatikan. Pastikan benih merupakan benih sehat dan berasal dari induk yang sehat. Lingkungan pertanaman juga perlu dijaga agar bersih dan tidak terlalu lembab atau tergenang air. Untuk tanaman yang telah terserang penyakit, bisa disemprot dengan bakterisida atau fungisida, jika perlu dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman yang lain. 

Memanen 
 
Tanaman Jahe bisa dipanen setelah kira-kira 10 bulan. Tanaman yang sudah cukup tua dan siap panen akan melewati masa mengering, di
mana daun dan batangnya berubah menjadi kuning dan mengering. Pemanenan Jahe dari media karung dan polybag cukup mudah karena tidak
perlu menggali dengan susah payah. Kita cukup menggali dengan cetok dan membuka karung atau polybag yang sudah mulai lapuk. Angkat rimpang
Jahe dengan hati-hati agar tidak rusak, bersihkan dari tanah dan kotoran yang menempel, dan jika perlu cuci dengan air bersih. Satu rumpun
tanaman Jahe dalam 1 media tanam karung ukuran 50 kg, bisa menghasilkan rimpang Jahe segar 2 hingga 5 kg.

BUDIDAYA TANAMAN MENTIMUN

Mentimun memiliki nama Latin “Cucumissativus L” yang berasal dari bagian utara India kemudian masuk ke Cina pada tahun 1882 De Condole memasukkan tanamanini ke daftar tanaman asli India. Mentimun dimasukkan ke dalam bangsa Cucurbitales, keluarga Cucurbitaceae, dan marga Cucumis.
Budidaya mentimun membutuhkan langkah dan perawatan ekstra, karena tanaman ini rentan terhadap hama dan cuaca. Mentimun akan lebih bagus ditanam pada tanah yang mengandung hara organik cukup banyak. Tekstur tanah yang baik bagi tumbuh kembang tanaman ini berkadar liat rendah dengan pH 6-7.
Budidaya mentimun melalukan proses memperbanyak tanaman melalui biji. Jadi dalam budidaya mentimun tersebut kita membutuhkan benih. Benih tersebut dituntut memiliki mutu tinggi sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum. Benih bersertifikat pada dasarnya telah lolos tes mutu benih yang meliputi: mutu genetik, mutu fisiologik dan mutu fisik.
·     Mutu Genetik yang memiliki penampilan benih murni dari spesies atau varietas tertentu yang menunjukangenetik dari tanaman induknya. Dengan ciri mutu benih dan tanaman menyerupai sifat induknya .
·    Mutu fisiologik yang mencakup kemampuan daya hidup atau viabilitas benih seperti daya kecambah dan kekuatan benih. Dengan ciri mutu fisiologik benih yakni, kemampuan benih dalam memecah kulit benih dalam proses perkecambahan dengan munculnya radikel dan memanjangnya hipokotil serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah.
·         Mutu fisik merupakan penampilan benih bila dilihat kasat mata, antara lain ukurannya homogen, bernas, bersih dari campuran benih lain maupun dari gulma dan bebas dari kontaminasi.
Nah, untuk mendapatkan benih yang memiliki mutu tinggi pasti kita harus mengetahui tipsnya.
Berikut tips mendapatkan benih yang baik adalah dengan menyeleksi mentimun yang pangkalnya kecil namun buahnya panjang dan besar. Biarkan buah mentimun tersebut masak dipohon. Setelah terlihat akan membusuk petik buah tersebut dan diamkan selama satu malam. Keesokannya buah dibelah dan dikerok bijinya. Lalu masukkan kedalam wadah yang bersih dan biarkan kembali selama satu malam.
Setelah itu, biji mentimun di air mengalir sampai selaput yang menyelubunginya hilang. Untuk memudahkan pengelupasan selaput, campurkan halus abu pada benih tersebut. Pada waktu pengayakan lakukan sortasi biji. Pilih biji yang tenggelam, tidak hanyut terbawa aliran air. Kemudian jemur biji mentimun selama 2 hari. Setelah dijemur sebaiknya biji dikemas dalam botol kaca yang bersih. Simpan biji tersebut selama 1-2 bulan sebelum digunakan untuk menghilangkan masa dormannya. Benih yang disimpan dengan baik bisa bertahan hingga satu tahun.
Sehari sebelum budidaya mentimun dilakukan, siapkan benih dengan cara direndam dalam air hangat selama 3-5 jam kemudian letakkan di kain basah dan lembab. Setelah 15-24 jam biasanya akan tumbuh tunas dari biji-biji tersebut, dan benih mentimun siap untuk ditanam.
Benih mentimun umumnya akan berkecambah pada keadaan lingkungan yang mendukung. Syarat umum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan benih adalah; 1) adanya air yang cukup untuk melembabkan biji, 2) suhu yang sesuia, 3) cukup oksigen, dan 4) adanya cahaya. Selain itu juga, dalam proses perkecambahan benih tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi seperti faktor dalam (internal) dan faktor luar (external). 1) Faktor dalam (internal) meliputi tingkat kematangan benih, ukuran benih, dormansi benih, dan penghambat perkecambahan. Sementara itu, 2) Faktor luar (external) meliputi cahaya, air, temperatur, oksigen, dan medium tumbuh (Sutopo, 2002).
Benih mentimun yang akan ditanam sebaiknya dipersiapkan media tanam/semai terlebih dahulu. Media semai itu berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 7:3. Sebagai tempat media dapat menggunakan polybag atau plastik transparan dengan dilubangi untuk drainase air. Untuk menghindari tanaman terserang hama media harus diberi Curater .

Beberapa penyakit dan hama yang menyerang mentimu diantaranya dikenal dengan istilah cacantal atau oteng-oteng. Hama ini menyerang daun dan bisa menyebabkan kematian pada tanaman. Selain itu, hama yang kerap menyerang mentimun adalah ulat tanah. Hama ini biasanya menyerang batang yang menjadi pangkal keluarnya daun atau buah. Kedua hama ini bisa dikendalikan dengan menggunakan biopestisida yang terbuat dari ekstrak kipait dan gadung yang dicampur dengan air kencing kelinci.Penyakit yang menyerang budidaya mentimun adalah busuk daun, tepung putih, antraknosa, bercak daun dan busuk buah. Penyakit ini bisa dikendalikan secara kultur teknis berupa rotasi tanaman dan pembuangan bagian tanaman yang terkena penyakit.
Pemanenan
Mentimun mulai berbunga pada 20 hari setelah tanam dan berbuah setelah 40 hari. Panen pertama budidaya mentimun biasanya dilakukan setelah 75 hari. Pemanenan dilakukan secara bertahap selama 1-1,5 bulan. Panen bisa dilakukan setiap hari, umumnya bisa dipetik 1-2 buah per tanaman.Produksi buah mentimun yang baik bisa mencapai 30 ton per hektar. Mentimun hasil panen harus diletakkan di tempat sejuk karena buah mentimun akan cepat kehilangan kandungan air. Setelah dipanen, biasanya mentimun di pack dalam tempat yang mempunyai sirkulasi udara.

BUDIDAYA TANAMAN CABAI RAWIT DALAM POT



       Siapa yang tidak mengenal cabe rawit? Dapat dipastikan bahwa seluruh masyarakat Indonesia mengenal varietas cabe yang satu ini. Ciri khas cabe rawit merah yaitu ukurannya yang relatif kecil namun mempunyai rasa pedas yang luar biasa. Semakin mahalnya harga cabe rawit di pasaran membuat cabe ini menjadi semakin berharga untuk didapatkan. Namun, pembaca tidak perlu khawatir dengan mahalnya harga cabe karena penulis akan memaparkan cara menanam cabe rawit merah yang tepat. Bagi pembaca yang halaman rumahnya tidak begitu luas dapat mencoba berkebun cabe rawit setelah mempelajari cara menanam cabe merah baik itu dalam  pot atau dalam polibag.
  
         Sebelum memulai cara berkebun cabai merah rawit, perlu untuk memilih biji cabe rawit yang berkualitas. Pemilihan biji cabe dimulai dengan memilih buah cabe yang sehat alias tidak terlihat sakit. Setelah dipilih, kemudian buah cabe disayat untuk mengeluarkan bijinya. Biji cabe yang telah diambil kemudian dijemur selama tiga hari dengan tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Setelah tiga hari, saatnya melakukan proses persemaian biji cabe rawit.

Proses persemaian cabe rawit diawali dengan merendam biji cabe rawit di air hangat selama setengah jam, kemudian dilanjutkan dengan merendamnya dalam larutan perangsang akar selama sehari semalam. Biji cabe yang terlihat mengapung segera dibuang karena tidak akan dapat tumbuh dengan optimal. Biji yang lolos seleksi dibungkus kain basah selama sehari semalam. Sebagai wadah semai, pembaca dapat menggunakan bak plastik dan pada bagian dasarnya diberi lubang berdiameter 10 cm. Sebagai media semai, campurkan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1: 1 dan disiram dengan cairan perangsang akar

Wadah dan media semai yang telah siap dapat segera digunakan untuk menyemai biji. Cara menanam cabe rawit melalui proses persemaian yang dilakukan satu per satu dengan diberi jarak antar biji supaya saat telah siap untuk ditanam di pot, benih dapat dicabut dengan mudah. Setelah disemai, bagian atas wadah yang terbuka ditutup dengan plastik tipis untuk menghindarkan biji dari gangguan. Media semai dijaga kelembabannya dengan menyiramnya dengan air secukupnya dan ditempatkan di lokasi yang teduh. Setelah biji cabe rawit tumbuh dan mempunyai sekitar empat helai daun yang baik, bibit cabe dapat segera dipindah ke pot. Saatnya pembaca memulai cara menanam cabe rawit di halaman rumah yang prinsipnya sama saja dengan cara menanam cabe merah di polibag atau di dalam pot.

Sebelum dilakukan proses penanaman, perlu untuk menyiapkan media tanam yang mempunyai fungsi sebagai pendukung pertumbuhan tanaman. Media tanam untuk cabe rawit yaitu campuran tanah gembur, pupuk kandang, dan ditambah dengan kompos dengan perbandingan 1: 1: 1 yang kemudian dimasukkan ke dalam pot berdiameter sekitar 30 cm. Media tanam harus sudah siap sejak 14 hari sebelum dimulainya proses penanaman. Satu minggu sebelum penanaman, media tanam disiram dengan larutan perangsang pertumbuhan tanaman. Setelah media tanam siap, saatnya melaksanakan cara menanam cabe rawit ataupun menanam cabe merah dalam polybag.Cara menanam cabe rawit yang benar yaitu diawali dengan memilih bibit cabe rawit hasil semai yang kualitasnya baik, yaitu yang telah mempunyai daun minimal 4 helai sempurna. Bibit dicabut dari media semai dengan hati-hati supaya akar bibit tidak rusak. Pada media tanam di pot dibuat lubang dengan ukuran yang sedikit lebih besar dibanding dengan bibit. Masukkan bibit ke dalam lubang dengan memadatkan daerah sekitar akar supaya bibit dapat tumbuh dengan baik, dan siram dengan air secukupnya.

BUDIDAYA TANAMAN KANGKUNG



Kangkung (Ipomoea sp.) bisa ditanam di dataran rendah serta dataran tinggi. Kangkung adalah tipe tanaman sayuran daun, tergolong ke dalam famili Convolvulaceae. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan adalah sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu:
  1. Kangkung darat, nasib di tempat yang kering alias tegalan, dan
  2. Kangkung air, nasib ditempat yang berair serta basah.
Kangkung darat bisa diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar dibutuhkan benih kurang lebih 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra alias varietas lokal yang memiliki daya penyesuaian lebih baik dibanding varietas lain. Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, seusai itu dibangun bedengan membujur dari Barat ke Timur supaya memperoleh cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya 100-120 cm, tinggi 30 cm serta panjang sesuai kondisi lahan, untuk memudahkan pemeliharaan sebaiknya panjang bedengan kurang 15 m. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) perbuat pengapuran dengan kapur kalsit alias dolomit untuk menaikkan derajat keasaman tanah dosis 1,5 t/ ha, pengapuran dilakukan sebelum penanaman, yaitu 2-4 minggu sebelum tanam.

Pupuk organik (sebaiknya kotoran ayam yang sudah difermentasi) diberikan tiga hari sebelum tanam dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter ditambahkan pupuk anorganik berupa Urea 15 gr/m2 pada umur 10 hari seusai tanam. Supaya pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan dengan cara larikan di samping barisan tanaman, apabila butuh tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 serta 2 minggu seusai tanam. Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang sudah dipersiapkan. Buat celah tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap celah tanamkan 2 – 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan dengan cara zigzag alias system garitan (baris). Pemeliharaan yang butuh diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tak turun hujan wajib dilakukan penyiraman. Faktor lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman tetap muda serta menjaga tanaman dari serangan hama serta penyakit. Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) serta Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang dikarenakan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan tipe pestisida yang aman mudah terurai semacam pestisida biologi, pestisida nabati alias pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut wajib dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, tutorial aplikasi, interval serta waktu aplikasinya. Panen dilakukan seusai berusia + 25 hari seusai tanam, dengan tutorial mencabut tanaman hingga akarnya alias memotong dibagian pangkal tanaman kurang lebih 2 cm di atas permukaan tanah. Pasca panen khususnya diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan tutorial menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh alias merendamkan tahap akar dalam air serta pengiriman produk ketempat tujuan secepatnya.